Membangun Budaya Kerja - @litamucharomReviewed by Rizal Yan on May 26.Rating: 5.0Membangun Budaya Kerja - @litamucharomBudaya kerja yang tepat membuat usaha kita akan memiliki karakter yang menarik untuk menciptakan branding yang kuat di mata pelanggan. Budaya kerja yang kondusif juga akan mendukung cara kerja karyawan yang efektif dalam pencapaian target usaha.
Kompilatwit ini wajib dibaca dan dipahami bagi yang tertarik dengan dunia kewirausahaan. @litamucharom membagikan ilmunya tentang membangun budaya kerja dalam perusahaan. Teruskan saja membaca dan anda akan mendapat poin-poin penting di dalamnya.
—
Membangun Budaya Kerja – @litamucharom
Budaya kerja yang tepat membuat usaha kita akan memiliki karakter yang menarik untuk menciptakan branding yang kuat di mata pelanggan. Budaya kerja yang kondusif juga akan mendukung cara kerja karyawan yang efektif dalam pencapaian target usaha. Budaya kerja perlu ditentukan dan didefinsikan sehingga semua elemen dari usaha kita mendukung budaya tersebut.
Apa sih yang dimaksud dengan budaya kerja? Yang namanya budaya ya segala tindak tanduk, aturan main dan pernak pernik usaha. Biasanya budaya kerja juga kita sebut “values” atau nilai-nilai yang kita pahami perlu ada dalam setiap hati, jiwa dan kebiasaan kita. Contoh budaya kerja kondusif: ikhlas, jujur, amanah, bersyukur, responsive, customer oriented, open minded, compliance, proactive, dll
Apa budaya kerja atau nilai-nilai karakter karakter usaha yang ada di UKM kamu? Ada yang mau share kah?
Nah, kita harus bisa definisikan budaya kerja yang paling pas dan sesuai karakter usaha dan merk yang ingin kita kembangkan. Selanjutnya, karyawan perlu paham mengenai budaya kerja tersebut. Jangan sampai karyawan punya definisi dan persepsi yang berbeda dengan kata ”ikhlas”. Budaya yang kita pilih sebaiknya relevan dengan produk/jasa kita dan juga dengan karakter kita sehingga pemilik usaha.
Budaya perusahaan akan lebih mudah di adaptasi oleh karyawan bila pemilik atau pemimpin menjadi role model. kalau kita ingin ”responsive” sehingga bagian dari budaya kerja karyawan, maka sehingga pemimpin harus meresponse dengan cepat kebutuhan karyawan. Kalau kita ingin semua karyawan bekerja dengan ikhlas sehingga bagian dari budaya perusahaan, sehingga pemimpin jadilah pribadi yang ikhlas. Kalau perusahaan ingin dikenal sehingga lembaga yang jujur, maka karyawannya juga diseleksi ketat agar hanya si jujur saja yang boleh bergabung.
Nah, makanya budaya kerja dibangun dengan meminimalkan budaya baru yang merusak masuk ke dalam perusahaan kita. Bagaimana melakukannya? Salah satunya dengan cara melakukan seleksi ”karakter” kandidat yang akan masuk bergabung dengan perusahaan kita.
Definisi budaya kerja sudah ada, karakter pemimpin sudah selaras, seleksi sudah diperketat. Tapi karyawan kok tidak paham juga ya? Budaya kerja perlu di Internalisasi ke setiap jiwa karyawan supaya jadi kebiasaan positif dan terefleksi dalam setiap tindakan atau cara kerjanya.
Agar karyawan lebih paham dan bersedia untuk membaur dengan budaya usaha yang ingin kita bangun, buatlah sistem sosialisasi dan reward yang tepat. Contoh misalnya membuat serangkaian kegiatan permainan seputar jargon-jargon ”budaya kerja” dan memberi hadiah-hadiah kecil (coklat atau apa) kepada tim.
sosialisasi harus sering dilakukan berulang-ulang dan karyawan diminta untuk menerapkan dan sharing sampai dimana mereka sudah jadikan habit. Budaya Perusahaan perlu diklarifikasi terus ke karyawan, karena persepsi bisa saja berbeda. Passion bagi perusahaan tidak sama dengan karyawan.
Budaya bukan hanya sikap kerja karyawan tapi juga dari setiap elemen usaha : SOP, tatanan organisasi, layout kantor, kemasan produk, dll. Budaya kerja yang seirama dengan karakter karyawan tentu membuat karyawan merasa lebih terikat dengan perusahaan dan bersemangat mencapai tujuan perusahaan.
Budaya kerja perlu dikaitkan dengan sistem evaluasi karyawan. Sehingga karyawan yang mampu beradaptasi dengan baik juga mendapat penghargaan. Nah, dengan sistem seleksi yang tepat, sosialisasi yang tepat serta sistem evaluasi tingkah laku yang tepat maka diharapkan setiap karyawan. Sehingga, pelanggan kita juga akan melihat perusahaan kita punya karakter khusus yang mereka identikkan dengan karakter Merk atau brand usaha kita.
Sebuah ”Merk harus berkepribadian sehingga yang menggunakan merk tersebut juga dpt menemukan identitas dirinya yang terefleksi pada saat menggunakan. Misalnya kita berhasil
membangun budaya kerja ”fun” untuk
bisnis entertainment kita. Maka identitas itulah yang ada di benak pelanggan.
Ketika karyawan merasa ”asyik dan sudah beradaptasi menjadi pribadi yang ”asyik” maka pelangggan akan melihat bisnis kita bener2 ”asyik”. Tidak mungkin kan kita berusaha keras meyakinkan pelanggan bahwa bisnis resto kita ”cepat saji” sementara budaya kerja karyawan masih lambat? Bagaimana kita ”menjual” persepsi bahwa bisnis spa kita itu ”relax” sementara tim kita memahami budaya kerja ”relax” itu sendiri.
Karakter merk semakin diperkuat dengan budaya kerja yang selaras. Budaya kerja tercipta dari akumulasi karakter karyawan. Karakter karyawan adalah cerminan dari karakter pemimpin. Nah, semua itu saling berkaitan.
—
thoughts –> words –> actions –> habits –> character –> destiny
Mana mungkin mau mencerdaskan dan mengharmoniskan kehidupan bangsa kalau kita mencerdaskan dan mengharmoniskan diri kita sendiri? Mari lala lala….
Paham kan?

Rizal Yan
Incoming search terms:
contoh budaya kerja,
budaya kerja yang kondusif,
@litamucharom,
contoh budaya kerja di perusahaan,
menciptakan budaya kerja yang kondusif,
jargon budaya kerja,
menciptakan buadaya kerja yang kondusif,
membangun budaya kerja,
membangun brand dengan membangun budaya perusahaan,
litamucharom,
contoh-contoh budaya kerja,
contoh risalah budaya kerja,
contoh budaya organisasi yang kondisif,
contoh budaya kerja perusahaan,
contoh budaya kerja perusaaan,
arti budaya kondusif,
alitamucharom,
satu contoh budaya kerja